Faceminang.com
pencarian di faceminang.com
Portal berita online terkini dari Padang, Sumatera Barat. -
Tour de Singkarak 2013

Top Stories

Rabu, 01 Agustus 2012

Mantan Gu­bernur Sumbar Zainal Bakar, Meninggal Dunia

Berita: Padang, Sumatera Barat
Mantan Gu­bernur Sumbar Zainal Bakar, Meninggal Dunia

Padang, Faceminang.com - Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Mantan Gu­bernur Sumbar 2000-2005, Zainal Bakar, 72, meng­hem­buskan napas terakhir di RSUP M Djamil, Selasa (31/7) se­kitar pukul 07.15 WIB. Pa­mong senior ini tak mampu me­lewati masa kritisnya sejak tiga hari belakangan, di ruang In­tensive Care Unit (ICU).

”Bapak sakit sudah 5 ta­hun, dan atas izin Allah tadi pagi (ke­ma­rin, red), bapak meng­hem­bus­kan napas ter­akhir.

Kami se­ke­luarga melepas Bapak de­ngan se­gala keikhlasan, dan mudah-mu­dahan Allah mem­berikan tem­pat terbaik di sisi-Nya,” ujar Is Prima Nanda, anak sulung al­marhum dengan tangis terisak.

Is Prima Nanda berharap se­lu­ruh masyarakat Sumbar me­maaf­kan kesalahan orang­tua­nya. “Jika selama hidupnya ba­pak memiliki kesalahan, kami mo­­hon maafkanlah kesalahan Ba­pak,” ucapnya.

Zainal dirawat di RSUP M Djamil selama 11 hari, sejak Ju­mat (20/7), karena penyakit str­o­ke yang telah diidapnya sejak ta­­hun 2006 lalu. Mantan pendiri Pe­r­­satuan Keluarga Daerah Pia­man (PKDP) Sumbar ini me­ning­galkan seorang istri dan tu­juh orang anak.

Suasana duka menyelimuti rumah duka di Jalan Kali Sedayu Pa­dangbaru Timur Padang. Isak ta­ngis keluarga dan kerabat, tum­pah saat jenazah pamong yang merintis karir dari penata mu­da III/a/F/II itu, akan dibe­rang­katkan untuk dise­mayam­kan di kantor Gubernur Sumbar.

Bangunan rumah berlantai II tersebut terasa begitu sesak, ka­rena banyaknya orang ingin me­lepas keberangkatan jenazah. Nya­ris seluruh anak, cucu dan sau­dara Zainal Bakar menangis te­risak. Rasa kehilangan juga di­rasakan karib kerabat serta man­tan anak buahnya saat men­jabat gubernur Sumbar.

Gubernur Sumbar Irwan Pra­yitno, Wakil Gubernur Muslim Kasim, Ketua DPRD Sumbar Yul­tekhnil beserta sejumlah ke­pala daerah, tokoh Sumbar dan pe­la­yat lainnya turut me­ngan­tar­kan jenazah untuk dilepas di kan­tor gubernur. Sebelumnya, je­nazah dishalatkan di Masjid Muh­sinin, Padangbaru.

Upacara pelepasan jenazah di kantor Gubernur, dipimpin Ir­wan Prayitno. Setelah itu, pe­layat be­­ramai-ramai konvoi me­ngan­tar­kan jenazah untuk dima­kam­kan di pandam pekuburan ke­luar­ga, di Sei Sirah Pilubang, Ke­ca­matan Sei Limau, Ka­bupaten Pa­dangpariaman.

Irwan Prayitno me­ngung­kap­kan, Sumbar ber­sedih kehi­la­ngan salah se­orang pa­mong se­nior. “Jarang PNS yang seperti Pak Zainal. Beliau meniti karir, mu­lai staf golongan III A hingga men­jadi gubernur. Karena me­niti karir dari bawah, beliau tahu se­gala macam persoalan peme­rin­tahan. Tidak hanya sebagai ata­san, beliau juga dikenal men­ja­di guru dan bapak yang baik,” tutur Irwan.

Zainal Bakar sendiri tak se­kali itu dirawat di RSUP M Dja­mil. Sebelumnya, mantan Wa­gub Sumbar pasangan Much­lis Ibra­him ini juga pernah dirawat di rumah sakit yang sama. Man­tan Bupati Padangpariaman ta­hun 1990 ini pun sebelumnya juga pernah dirawat di RS Singa­pura. Jumat (20/7/2012), kese­ha­tan mantan Sekwilda Sumbar ta­hun 1993 ini menurun hingga ha­rus dilarikan ke RSUP M Djamil.

Sejak kabar duka didapat pu­kul 07.15 WIB, setelah itu pe­layat si­lih berganti menjenguk ru­mah duka. Mulai dari kala­ngan PNS hing­ga sejumlah mitra kerja dari Bank Nagari, PT SP, pihak uni­ver­sitas, ormas, parpol, BUMD dan pegawai. Tak ketinggalan juga dari sastrawan, budayawan dan wartawan. Dari kepala dae­rah, tampak Wawako Padang Mah­­yeldi Ansharullah, Bupati dan Wabup Padangpariaman Ali Mukh­ni dan Damsuar, Wako Pa­riaman Mukhlis Rahman, Bu­pati Tanahdatar Shadiq Pasa­digoe.

Sejumlah pejabat di era Gu­bernur Zainal Bakar, seperti Ye­nifra (mantan Kepala Dis­penda), Chai­rul Darwis (man­tan Kepala BKD), Syofyan (mantan Kepala Biro Hukum) mengaku banyak pe­­­lajaran yang didapat dari figur Zai­nal Bakar. “Pak Zainal itu, orang­nya tak neko-neko. Kalau bi­­lang A, ya A. Dia itu orangnya ser­­ba tahu. Jika kita berbohong, pas­­ti ketahuan. Tak ada masalah yang tak terselesaikan oleh Pak Zai­­nal. Ia sangat pintar mencari ja­­lan ke luar dalam menjalankan ro­­da pemerintahan,” kata Ye­nifra.

Hal senada dikatakan Chai­rul Darwis. “Pak Zainal, orang­nya sangat disiplin. Ia dikenal akrab dengan sejumlah staf. Se­bagai seorang pemimpin, ia te­gas. Namun, berhati lembut dan bisa menjadi guru yang baik bagi kami-kami. Satu hal lagi, Pak Zainal itu orangnya suka terus te­rang. Da­lam bekerja di peme­rin­ta­han, jangan coba-coba mem­­bohongi Pak Zainal. Ia ta­hu, karena ia sa­ngat me­nguasai se­luruh per­masalahan. Lha, ia mu­lai meniti karir dari bawah, ya pasti tahu dia dengan seluruh permasalahan birokrasi,” tutur Chairul.

Hal yang menjadi catatan penting yang perlu jadi perhatian ke­pala daerah, menurut Chairul, soal kepegawaian. Almarhum yang pernah menjadi Sekkab Agam itu, kata Chairul, sangat meng­­hormati kaderisasi di pe­me­­rintahan. “Tidak ada peja­bat struk­­tural atau Kepala SKPD di pem­prov ketika itu yang pang­katnya lebih rendah dari bawahan, seperti yang ba­nyak terjadi saat ini di daerah-dae­rah,” ungkap Chai­rul yang se­masa Zainal sempat men­du­duki jabatan kepala BKD, kepala Biro Peme­rintahan, dan kepala Biro Otoda.

“Pak Zainal juga sering me­minta nasihat dan masukan dari pamong senior, ulama dan tokoh adat serta wartawan dalam men­ja­lankan roda peme­rintahan. Ka­lau tidak beliau yang meng­hu­bungi, belum datang lang­sung ke se­niornya dan ka­dang ber­kum­pul. Dengan wakil gu­ber­­nur, pak Fach­ri Ahmad, sela­ma saya men­jadi bawahan be­liau tidak tampak ada perse­lisihan. Mereka akur-akur saja. Ini perlu jadi contoh,” kenang Chairul.

Wagub Sumbar Muslim Ka­sim punya kenangan ters­en­diri ter­hadap sosok almarhum. “Jasa Pak Zainal banyak sekali ter­hadap kemajuan Sumbar yang kita rasakan sekarang ini. BIM itu, beliau yang gagas. Begitu pula sejumlah jalan-jalan strate­gis, seperti Kelok Sem­bilan, Si­cincin-Malalak. Di Pariaman, ia juga berjasa mempersiapkan kota administratif (kotif) men­ja­di kabu­paten. Pak Zainal yang mem­bawa saya pulang ke Paria­man. Waktu itu, saya menjadi ke­pala Bulog di Bali. Oleh Pak Zai­nal, saya di­minta mengabdi di kampung ha­laman,” ulas Mus­lim.

Mantan Plt Bupati Solok S­e­latan Marzuki Oenmar menu­tur­­kan, fi­gur Zainal Bakar pantas di­ja­di­kan suri teladan. Dalam ke­se­ha­rian­nya, Marzuki menilai Zainal Ba­­kar adalah sosok pim­pinan yang tegas. Meski me­miliki suara lantang, namun Zai­nal Ba­kar memiliki hati yang sa­ngat baik. “Beliau orangnya tegas pa­da bawahannya. Walaupun ka­mi dimarahi beliau, tapi kami me­­rasa tidak dimarahi atasan. Me­­lainkan, marah bapak ter­ha­dap seorang anak yang nakal. Si­kap kepamongan beliau serta ke­bapakannya dalam me­mimpin, mem­buat saya tak bisa me­lu­pakannya,” ucapnya.

Bupati Tanahdatar M Shadiq Pa­sadigoe juga mengenal sosok Zainal Bakar sebagai figur tegas dan memiliki prinsip dalam memimpin. “Beliau adalah salah seseorang sahabat terbaik saya. Saya masih ingat tahun 2004 la­lu, beliau mengangkat saya se­ba­gai wakil kepala Dinas Peter­na­kan Sumbar. Di mata saya, be­liau adalah pemimpin yang me­miliki prinsip sangat kuat dan pa­tut dijadikan suri teladan,” ucap­nya.

Sekko Bukittinggi Yuen Kar­nova punya pengamalan tersen­diri terhadap Zainal Ba­kar. “Be­liau banyak berjasa mengor­bit­kan saya, sehingga mencapai ka­rir seperti sekarang,” ung­kapnya. Pe­rasaan serupa juga diakui Sua­r­di, dosen Unand Padang, dan Rizaldi Algamar, kerabat al­mar­hum. Zainal Bakar meru­pa­kan sosok pemimpin yang mam­pu mengayomi masya­rakat­nya.

Tokoh ulama Sumbar, Ma­soed Abidin juga menaruh res­pek dengan figur Zainal Ba­kar. “Meski orangnya punya prinsip yang keras, namun hatinya lembut untuk agama. Segala kegiatan dan program agama, ia sangat mendukung ketika itu. Ia juga dikenal dengan ulama. Ka­rena itu, ia menjadikan tokoh ula­ma selaku staf ahli saat ia men­jabat gubernur. Ia juga di­kenal cepat mengambil kepu­tusan. Punya dedikasi dan di­siplin yang bagus. Patut untuk ditauladani,” tukas Masoed.

Tokoh pengusaha dari Pia­man, Rani Ismail pun me­ngakui, Zai­nal adalah seorang figur yang tegas. “Ia mempunyai visi jauh ke ­depan. Bagaimana ia berpikir un­tuk memajukan daerah dan mas­yarakatnya. Selaku pendiri PKDP Sum­bar, ia juga sangat care (pe­duli) dengan PKDP. Se­mua orang dirangkulnya,” tam­bah Rani.

Pujian juga dilontarkan Bas­ril Basyar, Ketua Persatuan War­tawan Indonesia (PWI) Sum­bar. “Pak Zainal adalah salah seorang gu­­bernur yang sangat dekat de­ngan para wartawan. Semua war­tawan, sama di matanya. Ba­gi Pak Zainal, wartawan itu juga spionasenya. Setiap hari, ia min­ta sumbang pemikiran ke­pada war­tawan. Ia juga per­nah mem­bantu PWI saat itu, membangun kantor. Perhatiannya sangat luar biasa,” ujar Basril Basyar.

Dari tokoh parpol, Ketua DPD I Partai Golkar Sumbar, Hen­d­ra Irwan Rahim juga me­nga­ku kehilangan sosok Zai­nal Bakar. “Pak Zainal itu, dulunya ke­tua Penasihat Golkar Sumbar. Ja­sanya sungguh banyak mem­besarkan Partai Golkar ketika itu. Kami para junior, banyak b­­lajar kepadanya,” pung­kasnya.

Tepat pukul 13.10 WIB, jena­zah Zainal Bakar langsung diba­wa ke kampung halaman­nya di Tanahsirah, Nagari Pilubang, Ke­camatan Sungailimau, Kabu­paten Padangpariaman. Suasa­na duka juga terlihat ketika upa­cara pelepasan almarhum me­nu­ju ke peristirahatannya, di pan­dam pekuburan keluarga be­sar Rang­kayo Ganto Suaro di Na­gari Pilu­bang.


sumber: padang ekspres